Manajemen risiko dan keamanan adalah proses untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengelola risiko yang terkait dengan kegiatan bisnis atau operasional suatu organisasi, serta untuk melindungi aset, informasi, dan kepentingan organisasi dari ancaman dan kerugian yang mungkin terjadi.
Keamanan, di sisi lain, fokus pada melindungi aset, informasi, dan kepentingan organisasi dari ancaman atau serangan yang bertujuan untuk merusak, mencuri, atau mengganggu operasi normal organisasi. Ini melibatkan implementasi langkah-langkah keamanan teknis dan non-teknis, seperti enkripsi data, penggunaan kata sandi yang kuat, pelatihan keamanan bagi karyawan, serta pemantauan dan deteksi ancaman cyber.
Kedua aspek ini penting dalam mengelola risiko dan melindungi organisasi dari berbagai ancaman dan kerugian yang mungkin timbul dalam menjalankan kegiatan bisnis mereka.
Risiko yang paling umum di industri perbankan adalah Fraud, Cybercrime, dan Data Breach.
Fraud di dunia perbankan merujuk pada tindakan yang dilakukan dengan sengaja dan curang untuk mendapatkan keuntungan finansial yang tidak sah dari suatu lembaga keuangan atau individu. Contoh-contoh fraud di dunia perbankan diantaranya:
Pencurian Identitas, yaitu penggunaan identitas orang lain untuk membuka rekening bank atau melakukan transaksi keuangan tanpa izin.
kemudian Penipuan Kartu Kredit, yaitu Penggunaan kartu kredit yang dicuri atau dipalsukan untuk melakukan pembelian atau penarikan tunai.
ada juga Phishing, yaitu pengiriman email palsu atau pesan teks yang meniru lembaga keuangan untuk mencuri informasi pribadi atau keuangan dari korban.
dan ini sering terjadi yaitu Skimming, berupa pemasangan perangkat skimming pada mesin ATM atau terminal pembayaran untuk mencuri informasi kartu kredit atau debit.
kemudian Insider Fraud, yaitu tindakan curang yang dilakukan oleh karyawan atau orang dalam organisasi perbankan untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau merugikan lembaga keuangan
Resiko perbankan selanjutnya adalah Cybercrime, yaitu kejahatan yang dilakukan melalui komputer atau jaringan komputer dan mencakup berbagai jenis kejahatan yang bertujuan untuk merusak, mencuri, atau mengganggu operasi perbankan dan keuangan. Beberapa contohnya adalah:
Pencurian Data Keuangan, dalam hal ini Pencurian informasi keuangan pribadi atau korporat dari sistem perbankan untuk tujuan pencurian identitas atau penipuan keuangan.
kemudian ada Ransomware, yaitu penyusupan perangkat lunak jahat yang mengenkripsi data perbankan sehingga tidak bisa digunakan, dan kemudian si penyusup meminta pembayaran tebusan untuk mendapatkan kunci dekripsi yang ditanamkannya itu.
yang lainnya adalah Serangan DDoS, yaitu serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan layanan perbankan melalui cara pengiriman data yang sangat besar dan bertubi-tubi ke server bank, sehingga server kolap atau sangat sibuk.
ada juga Malware Perbankan, yaitu penyusupan Perangkat lunak jahat yang dirancang khusus untuk mencuri informasi keuangan dari perangkat korban, seperti perangkat lunak pengintai atau perangkat lunak pencuri kata sandi.
Cybercrime di dunia perbankan dapat menyebabkan kerugian finansial yang besar bagi lembaga keuangan dan nasabah mereka.
Resiko perbankan berikutnya adalah Data Breach, yaitu kebocoran data yang terjadi karena sistem keamanan yang lemah. Berbeda dengan dua resiko sebelumnya yang diakibatkan oleh serangan dari pihak jahat, namun dalam resiko kali ini karena kesalahan lembaga perbankan sendiri. Sebagai contoh adalah penulisan informasi lengkap nasabah dalam pengiriman email, atau surat kepada nasabah, yang mana bila informasi ini terbaca oleh orang lain maka dapat digunakan oleh orang lain itu untuk melakukan transaksi perbankan.
Untuk melindungi data dan privasi konsumen, perlu diterapkan beberapa langkah-langkah pengamanan, antara lain:
Enkripsi data, yaitu mengubah data menjadi format yang tidak dapat dibaca atau dimengerti oleh orang yang tidak berwenang. Ini dilakukan dengan menggunakan algoritma enkripsi yang mengubah data asli menjadi bentuk yang disebut ciphertext, yang hanya dapat dibaca kembali ke bentuk aslinya dengan menggunakan kunci enkripsi yang sesuai. Enkripsi data digunakan untuk melindungi informasi sensitif, seperti kata sandi, informasi kartu kredit, atau data pribadi, dari akses yang tidak sah atau pencurian data
kedua Autentikasi multi-faktor, yaitu metode keamanan yang memerlukan lebih dari satu cara untuk mengonfirmasi identitas pengguna sebelum memberikan akses ke suatu sistem atau layanan. Ini biasanya melibatkan kombinasi dari setidaknya dua dari tiga faktor berikut:
Faktor Pengetahuan: Sesuatu yang hanya diketahui oleh pengguna, seperti kata sandi atau PIN.
Faktor Milik: Sesuatu yang dimiliki oleh pengguna, seperti token keamanan atau perangkat keras autentikasi.
Faktor Inheren: Karakteristik unik yang dimiliki oleh pengguna, seperti sidik jari atau pengenalan wajah.
Cara lain adalah Tokenization, yaitu menggantikan informasi sensitif dengan kode token unik yang tidak memiliki nilai atau makna. Token ini bisa dihasilkan oleh perangkat tambahan ataupun aplikasi lain yang dikeluarkan oleh bank tersebut.
Terakhir, edukasi kepada konsumen tentang keamanan digital payment, sehingga pengguna sendiri dapat melindungi dirinya sendiri.
